"Education aims at independence of judgement. Propaganda offers ready-made opinion for the unthinking herd."
Assalamu'alaikum wbt dan salam sejahtera. Selamat membaca.
~ MOHAB (1 September 2014 - 17.07.2014 - 19 Ramadhan 1435)

Ahad, Disember 07, 2008

Naga di Masjid Demak

Updated 01022009:

Pintu bledeg buatan Ki Ageng Selo tahun 1466 M, dibuat dari kayu jati berukiran tumbuh-tumbuhan, suluran, jambangan, mahkota, dan kepala binatang (naga?) dengan mulut terbuka menampakkan gigi-giginya yang runcing. Menurut cerita, kepala naga tersebut menggambarkan petir yang kemudian dapat ditangkap oleh Ki Ageng Selo.

MUSEUM MASJID AGUNG DEMAK

Sesuai dengan namanya, Museum Masjid Agung Demak terletak di dalam kompleks Masjid Agung Demak dalam lingkungan alun-alun kota Demak.

Di museum ini utamanya disimpan bagian-bagian soko guru yang rusak (sokoguru Sunan Kalijaga, sokoguru Sunan Bonang, sokoguru Sunan Gunungjati, sokoguru Sunan Ampel), sirap, kentongan dan bedug peninggalan para wali, dua buah gentong (tempayan besar) dari Dinasti Ming hadiah dari Putri Campa abad XIV, pintu bledeg buatan Ki Ageng Selo yang merupakan condrosengkolo berbunyi Nogo Mulat Saliro Wani yang berarti angka tahun 1388 Saka atau 1466M atau 887H (zaman Khalifah Abassiah) , foto-foto Masjid Agung Demak tempo dulu, lampu-lampu dan peralatan rumah tangga dari kristal dan kaca hadiah dari PB I tahun 1710 M, kitab suci Al-Qur’an 30 juz tulisan tangan, maket masjid Demak tahun 1845 – 1864 M, beberapa prasasti kayu memuat angka tahun 1344 Saka, kayu tiang tatal buatan Sunan Kalijaga, lampu robyong masjid Demak yang dipakai tahun 1923 – 1936 M.

Museum ini buka tiap hari dari Senin hingga Minggu jam kerja (08.00-16.00) dengan mengisi kas untuk pemeliharaan koleksi secara sukarela.

Koleksi peninggalan para wali berupa bedug dan kentongan (kiri dan tengah), dan gentong dari dinasti Ming hadiah Putri Campa (kanan). Lihat sini

source: http://www.museumronggowarsito.org/indonesia/jtg/jtg.asp?isi=pati_masjid

---------------------------------------------------

Nota Penulis:

"Hah naga? Ada naga dipintu masjid Demak. Ditangkapnya petir lalu ditampalnya ke pintu masjid. Selang tiga hari timbul kepala naga". Begitulah kisah yang diceritakan oleh 'waris' Sunan Kalijogo yang sempat penulis temubual tempoh hari.

Untuk mendapatkan bukti, lihat sahaja cerita dari museum dan gambar diatas. Persoalannya, jika kita abaikan cerita 'petir' tersebut jika pun tidak masuk akal, kenapa pula wali songo menggunakan naga sebagai motif dipintu masjid Demak? Bukankah naga itu binatang tahyul? Siapa pula kita hendak kritik wali songo?

*Ilmu menangkap petir ini memang ada, tetapi kena puasa pemutih (pati geni) dan mengikut syarat2nya yang tertentu...para wali songo pun handal bersilat.

-------------------------------------------

Antara masjid yang mempunyai seni bina yang sama adalah Masjid Demak (Jawa), Masjid Kg.Laut (Nilam Puri, Kelantan) dan juga Masjid Tengkera (Melaka). Pengaruh dari manakah senibinanya itu? Masjid Al Taqwa di Pekan Pahang juga pada asalnya mengambil contoh ketiga-tiga masjid di atas sebelum dirobohkan di ganti banggunan baru seperti hari ini. (malangnya penulis tiada foto untuk membuktikan)

-----------------------------------------

Pengaruh China dalam pembikan Masjid Demak tidak dapat dinafikan?

Updated 01022009:

Muljana writes, from the basis of these sources, that Raden Rahmad, or Sunan Ampel -- a Javanese ruler and nobleman -- who lived in the mid-15th century, was a migrant from Yunnan province, China. His real name was Bong Swi Hoo and he was the grandson of Bong Tak Keng, the highest ruler of Campa.

In 1447, Sunan Ampel apparently married a woman of Chinese origin called Ni Gede Manila. Her Chinese father, Gan Eng Cu, was formerly a captain in Manila and was transferred to Tuban in 1423. From this marriage, Sunan Bonang was born, ""Bonang"" being a derivative of the Chinese name ""Bong Ang"".

Another of Gan Eng Cu's sons was Gan Si Cang, who became a captain in Semarang. In 1481, Gan Si Cang headed the construction of Demak mosque, employing carpenters from the Semarang dockyards.

Muljana believes that Sunan Kalijaga, who was known in his youth as Raden Said, was none other than Gan Si Cang. Meanwhile, Sunan Gunung Jati, or Syarif Hidayatullah, said Muljana, was Toh Bo, the son of Tung Ka Lo, aka Sultan Trenggana.

2 comments:

  1. Ukiran melayu lama memang banyak motif haiwan dan alam... Mungkin motif naga ni ada makna, sperti juga ukiran bermotif burung cenderawasih pada senibina kapal2 lama, motif kepala cicak pada ukiran2 masjid di Selangor, Perak dan Johor dan sebagainya...
    Tapi bagi kalangan pengukir, motif2 Diukir untuk menggambarkan sesuatu, seperti mana motif topi perang Acheh dalam rekabentuk mimbar masjid2 di Melaka....

    BalasPadam
  2. Atau mimbar masjid-masjid Melaka yang mengambil motif topi perang Acheh?

    BalasPadam

Assalamu'alaikum wbt dan salam sejahtera. Selamat membaca.

 

Copyright © T H E . M A L A Y . P R E S S Design by Free CSS Templates | Blogger Theme by BTDesigner | Powered by Blogger